Resiko Seorang Penumpang

Kesalahan saat bekerja sudah rahasia umum menjadi resiko bagi seorang MANJI(Manusia bergaji), kesalahan itu bisa saja terjadi kapanpun, dimanapun, jadi jangan heran ada jargon dikalangan bisnis perparkiran “BARANG HILANG, RUSAK BUKAN TANGGUNG JAWAB MANAGEMEN” atau di bisnis transportasi, “RESIKO DI TANGGUNG PENUMPANG” jadi jangan terlalu banyak protes jika ada kecelakaan dijalan, korban yang mati kebanyakan adalah karyawan penumpang, sopirnya kabur atau diamankan petugas biar tidak digebukin Karyawan massa, karena sopir yang pegang kendali sebuah Perusahaan kendaraan, itulah resiko dan enaknya jadi Sopir.

Bagaimana jika kesalahan dilakukan oleh penumpang yang bisa mengakibatkan kecelakaan pada perusahaan kendaraan? siap-siaplah penumpang tersebut kena damprat, makian, cacian oleh MANAGEMEN Sopir, kondiktur, kernet bahkan sesama penumpang atau lebih parah penumpang tersebut di pecat turunkan ditengah jalan oleh sopir dan tak lupa kondektur memotong insentif menarik ongkos ke penumpang tersebut, pas dah apesnya, kata penumpang asal Madura “sudah tidak dapat kedudukan, dijatuhkan ke tanah air, tumpah darahku”(Sudah tidak dapat kursi, dijatuhkan dikubangan air dengan penuh luka).

Seorang Penumpang harus berani mati ketika dia menaiki sebuah kendaraan, bagaimana jika seorang penumpang tidak siap mati? ya jadi sopir aja, “gitu aja kok repot” kata Gus Dur. “Wah saya tidak kuat untuk beli kendaraan dan saya belum pernah/berani jadi sopir kendaraan” kata penumpang. Beli kendaraan yang kecil dulu, masak gak kuat? beli aja becak atau motor dan mulailah mencari & melayani penumpang, karena merekalah yang memberikan income ongkos buat sopir & kendaraan. Kalau beli becak atau motor saya masih kuatlah, tapi ada jaminan ndak saya bakal dapat penumpang. Itu adalah resiko seorang sopir sama seperti resiko ketika anda jadi penumpang, jadi tukang parkir bahkan pengemis pun ada resikonya, kalo anda tidak siap menanggung resiko, bunuh diri aja >:).

Hidup memang penuh dengan resiko, anda tidak bisa menolak atau menghindarinya. Jangan menganggap resiko itu sebagai dinding tebal dan panjang layaknya tembok china atau sebuah jurang dalam yang akan yang tidak bisa ditembus atau dilalui oleh anda. Banyak jalan menuju Mekkah Bung. Jangan jadikan resiko sebagai penghambat langkah anda, jadikanlah resiko sejalan dengan income yang anda dapatkan, seperti sebuah prinsip investasi, higth risk higth return.

Jadi, kapan anda mengajukan surat ijin mengemudi ?


Jadi Bos atau Karyawan

Judul tersebut aku kutip dari buku “Mulai Usaha Dari NOL“.

Catatan ini aku bikin berseri, dari hasil “Review” ku tiap bab dari buku ini.

Paragraf pertama dari bab satu dari buku ini bikin aku narsis.

Anda ingin kaya atau atau menjadi seorang yang sukses dengan mengelola usaha sendiri? jangan jadi karyawan!

Setiap orang pasti ingin sukses dan kaya, nah sekarang yang perlu direnungkan bagaimana untuk sukses dan kaya. Banyak jalan untuk menjadi kaya dan sukses, mau yang cepat atau lambat tergantung dari setiap orang.

Menurut ku ada beberapa “jalur” untuk menjadi kayak dan sukses dimulai dari yang paling cepat sampai yang paling lambat:

  1. Menikah dengan anak tunggal dari seorang yang kaya raya yang sakit-sakitan 😀
  2. Korupsi ketika pegang jabatan dengan resiko dipenjara.
  3. Jadi pengusaha, kalo bisa jadi pengusaha yang baik.
  4. Jadi Karyawan, ini yang paling lelet 😀

Terkadang kita “jenuh” dengan rutinitas pekerjaan yang kita setiap hari kita kerjakan, Bangun Pagi > Bekerja > Pulang > Tidur. Posisi “jenuh” ini terkadang membuat kita bekerja setengah hati dan cenderung malas-malasan, apalagi jika kita bekerja diperusahaan dengan jenjang karir tidak jelas, siap-siap jadi staff sampai pensiun/dipecat.

Banyak pengusaha yang sukses, mulai terjun ke dunia entrepreneur karena “kejenuhan” tersebut, padahal mereka sudah punya jabatan, karir dan penghasilan yang cukup ditempat mereka bekerja. Menurut buku “Mulai Usaha Dari NOL” Ada beberapa alasan yang saya setuju kenapa seseorang jadi “Bos”(baca:pengusaha), diantaranya:

  1. Ingin cepat kaya
  2. Ingin bebas diperintah oleh bos
  3. Keadaan terdesak, karena di PHK
  4. Memperoleh kepuasan batin

Nah.., siapkah anda menjadi Bos atau jadi karyawan