Belajar Dari Pedagang Asongan

Kita bisa belajar tidak mengenal tempat, kapanpun kita bisa belajar, dari siapapun kita bisa belajar. Selama ini kita terpaku oleh pola kalo mau belajar harus disekolah, kalo belajar harus kepada orang yang berilmu tinggi(baca: Pendidikan), kalo belajar harus ke orang yang sudah sukses. Pernahkah anda belajar diluar pola yang terpatri selama ini.

Mungkin saya adalah salah satunya. Ilmu yang saya dapat ini dari seorang pedagang asongan di terminal arjosari yang saya amati ketika setiap akhir pekan saya mudik ke Arudam (baca: madura). Pedagang asongan ini menjual kue basah didalam bis yang sedang ngetem menunggu penumpang. Hanya sekitar 10 menit yang dimiliki pedagang asongan tersebut untuk menjajakan dagangannya kepada sekitar 30 penumpang(bis berisi separuh karena saya berangkatnya malam hari).

Ilmu yang saya dapat adalah tentang Pricing yakni penentuan harga jual sebuah produk(baca:kue) kepada konsumen(baca:penumpang). Ketika saya mudik minggu lalu kebetulan saya naik Bis Patas, pedagang asongan ini menjajakan kuenya dengan harga Rp. 2500 dan menyodorkan 2 jenis kue. Kemaren kembali saya mudik tapi kali ini saya naik bis ekonomi dan kembalil pedagang asongaan ini menjajakan kuenya dengan harga Rp. 2000 dan menyodorkan 3 jenis kue.

Kejelian pedagang asongan ini menentukan harga untuk segment kunsumen yang berbeda patut diacungi 2 jempol. Segment market pertama yakni penumpang bis patas yang punya dana lebih banyak jika dibandingakan segment market yang kedua yakni penumpang bis ekonomi terbukti jitu. Di bis patas tidak banyak penumpang yang menawar harga(mungkin gengsi), mereka langsung setuju dengan harga yang ditawarkan seolah-oleh di bungkus kue tersebut sudah ada label harga dengan keterangan “Harga Pas Tidak Bisa Ditawar”. Sedangkan di bis ekonomi masih ada proses tawar menawar. Pedagang asongan tersebut bisa mendapatkan keuntungan lebih besar jika di menjual kepada penumpang bis patas.

Darimana dia belajar menerapkan pricing yang sangat tepat, mungkinkah pedagang asongan ini pernah ikut seminar Hermawan Kertajaya? Menurut pakar marketing tersebut Pricing adalah salah satu unsur penting dalam marketing.

Ilmu kedua yang saya dapat adalah tentang Penawaran. Masih terngiang-ngiang ketika ikut seminar Pak Tung atau mendengarkan CD Marketing Revolution, Penawaran adalah hal terpenting dalam bisnis. bukan lokasi bahkan produk. Pak Tung bilang kita hanya punya waktu 3 detik untuk menawarkan sebuah produk. Jika saya kalkulasi pedagang asongan tersebut punya waktu 20 detik untuk menawarkan dagangannya itu belum tereduksi oleh waktu ketika menawarkan dagangan ke masing-mesing penumpang dan “gesekan” sesama pedagang asongan.

Sebelumnya saya punya tanda tanya besar, kenapa pedagang asongan tersebut menyodorkan 3 jenis kue di bis ekonomi dan 2 jenis kue di bis patas, ternyata itu adalah jalan buat dia untuk membuat penawaran. Di bis ekonomi banyak penumpang yang menawar harga, biasanya menawar 1500 per kue, nah pedagang tersebut kekeh pasang harga 2000 kecuali beli satu “paket” (3 kue) seharga 5000, cara tersebut terbukti efektif banyak yang beli satu “paket”.

Untuk di bis patas kenapa menyodorkan 2 kue, ternyata untuk ngepaskan dengan pecahan uang 5000, mungkin ada “keengganan” pedagang asongan untuk ngasih kembalian, untuk yang ini saya masih ragu, Apakah itu adalah penawaran atau sebuah pemaksaan secara halus?


3 Comments on “Belajar Dari Pedagang Asongan”

  1. Artistainer says:

    Intinya tetap mematok harga 5rb dalam setiap menawarkan produknya per paket kepada konsumen. Dan benar juga agar setiap transaksi tidak direpotkan oleh uang kembalian.

    Karena ada perbedaan penumpang bus ekonomi dan non ekonomi hanya dibedakan jumlah produk yang dijual yaitu 2 dan 3 pcs.

    Simplicity of business strategy sometimes not visible to us hehehe

  2. Aryo Sanjaya says:

    Typo kah?
    “mungkinkah pedagang asongan ini pernah ikut seminar Hermawan Kertajaya, yang *menurutkan* pakar marketing Pricing”

  3. juliach says:

    Memang mereka harus jeli & cepat … karena jika tidak terjual barangnya pastilah tidak makan dan tak ada orang yang membantunya.

    Sedangkan kita, jika tidak punya uang … maka masih bisa pinjam kiri/kanan atau Bank …

    Itulah yg patut kita contoh jika kita mau sukses!


Ninggalin jejak di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s