Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah

Kami, sekeluarga mengucapkan:

Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah

Semoga ditahun yang baru ini, ibadahnya lebih baik dibandingkan tahun yang lalu.

Semoga ditahun yang baru ini, rizkinya lebih baik dibanding tahun yang lalu.

Semoga ditahun yang baru ini, kesehatannya selalu terjaga.

Semoga ditahun yang baru ini, lebih baik dibandingkan tahun yang lalu.

Semoga ditahun yang baru ini, kadar typo lebih baik dari tahun yang lalu 😀

Alhamdulillah, tahun ini diberi kesempatan untuk menghapus dosa.


Solusi Nyeleneh

Hiks…, postingan ini adalah solusi nyeleneh, tagihan si nengbiker untuk  untuk mengatasi masalah  bad habit yang dialami di timnya. Walaupun tidak sepenuhnya aku paham tentang SDM paling tidak aku mulai menerapakan ilmu-ilmu tentang SDM yang sering aku baca di blog punya Pak Sjafri Mangkuprawira, salah satu Profesor di IPB yang memang ahli di bidang SDM.

Artikel ini mungkin sedikit memberi gambaran tentang produktifitas & budaya kerja di Indonesia dan mungkin saja gambaran budaya kerja dikantor kita. Mungkin nengbiker perlu menjalin komunikasi yang lebih dengan partner kerja tentang masalah yang dialami dalam tim, tujuan yang akan dicapai oleh tim, sejauh mana tujuan sudah dicapai, kendala apa aja yang dialami untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk kinerja rekan kerja kita, semua harus dibicarakan. Caranya bagaimana ..? mungkin Artikel ini bisa digunakan 😀

Mungkin saja rekan nengbiker mengalami kejenuhan dengan rutinitas kerjaan yang cuma chating terus :D. Kejenuhan dengan rutinitas kerjaan yang hanya gitu2 aja bisa dialami siapa saja termasuk saya juga :D. Akibatnya apa…? bisa saja kejenuhan tersebut berakibat fatal atau menurunnya produktifitas kerja tim, sehingga tujuan yang semula ingin dicapai akhirnya gak kesampaian, jadi siap2 aja kena teguran ama leadermu bahkan kena SP1 he he.

Jobdesc yang jelas bahkan kalo bisa terperinci bisa dijadikan sarana untuk memantau apa yang dikerjakan oleh rekan kita karena memang tidak mungkin kita sewaktu2 nanyain ke rekan kerja, “kamu lagi ngerjain apa?”, atau mungkin sekali waktu perlu dikasih gimmick untuk mencapai target tertentu diluar jobdesc yang biasanya. Atau bisa pake cara ini untuk memantau apa yang dikerjakan oleh rekan, yang pernah aku usulkan ke leaderku dan disetujui dan masih berjalan sampai sekarang, walau terkadang aku melanggar usulku sendiri :)) , sorry sam 😀

Kongkritnya seperti ini:

  • Masing-masing tim setiap hari sebelum bekerja harus membuat list task yang akan dikerjakan hari ini yang diurutkan berdasarkan skala prioritas(pinjem istilahnya PW :D). List Task tersebut dikirim kesemua tim. List task tersebut dijadikan acuan masing2 tim sebagai target pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu.
  • Sebelum Pulang, masing2 tim membuat daily report, task apa aja yang sudah dikerjakan dari list task yang dibuat sebelumnya, jika ada tambahan task dari leader tambahkan juga dalam daily report tersebut. Jika ada task yang belum selesai dikerjakan harus dilaporkan juga, sejauh mana task tersebut dikerjakan, jika  ada kendala ketika menyelesaikan salah satu task juga harus dilaporkan atau ada usulan/request untuk mengatasi masalah tersebut.
  • Task yang belum selesai hari itu, esok harinya dimasukkan dalam list task besok yang harus diselesakan.
  • Ulangi dari cara pertama secara terus menurus,sampek blenger 😀

Serpertinya evaluasi dari leader mungkin saja diperlukan untuk menilai performa masing2 tim dalam setiap minggunya, gak usah yang evaluasi yang ribet deh, gak perlu dalam bentuk angka2 atau prosentase, cukup performa minggu kemaren lebih baik/turun/sama dari performa 2 minggu yang lalu, jangan lupa kasih juga motivasi/gimmick  biar tambah semangat,misalnya yang kinerjanya naik terus dalam 3 bulan berturut2 nanti diusulkan naik haji, eh naik gaji, he he he.

*mudah2an comment typo berkurang*


Resiko Seorang Penumpang

Kesalahan saat bekerja sudah rahasia umum menjadi resiko bagi seorang MANJI(Manusia bergaji), kesalahan itu bisa saja terjadi kapanpun, dimanapun, jadi jangan heran ada jargon dikalangan bisnis perparkiran “BARANG HILANG, RUSAK BUKAN TANGGUNG JAWAB MANAGEMEN” atau di bisnis transportasi, “RESIKO DI TANGGUNG PENUMPANG” jadi jangan terlalu banyak protes jika ada kecelakaan dijalan, korban yang mati kebanyakan adalah karyawan penumpang, sopirnya kabur atau diamankan petugas biar tidak digebukin Karyawan massa, karena sopir yang pegang kendali sebuah Perusahaan kendaraan, itulah resiko dan enaknya jadi Sopir.

Bagaimana jika kesalahan dilakukan oleh penumpang yang bisa mengakibatkan kecelakaan pada perusahaan kendaraan? siap-siaplah penumpang tersebut kena damprat, makian, cacian oleh MANAGEMEN Sopir, kondiktur, kernet bahkan sesama penumpang atau lebih parah penumpang tersebut di pecat turunkan ditengah jalan oleh sopir dan tak lupa kondektur memotong insentif menarik ongkos ke penumpang tersebut, pas dah apesnya, kata penumpang asal Madura “sudah tidak dapat kedudukan, dijatuhkan ke tanah air, tumpah darahku”(Sudah tidak dapat kursi, dijatuhkan dikubangan air dengan penuh luka).

Seorang Penumpang harus berani mati ketika dia menaiki sebuah kendaraan, bagaimana jika seorang penumpang tidak siap mati? ya jadi sopir aja, “gitu aja kok repot” kata Gus Dur. “Wah saya tidak kuat untuk beli kendaraan dan saya belum pernah/berani jadi sopir kendaraan” kata penumpang. Beli kendaraan yang kecil dulu, masak gak kuat? beli aja becak atau motor dan mulailah mencari & melayani penumpang, karena merekalah yang memberikan income ongkos buat sopir & kendaraan. Kalau beli becak atau motor saya masih kuatlah, tapi ada jaminan ndak saya bakal dapat penumpang. Itu adalah resiko seorang sopir sama seperti resiko ketika anda jadi penumpang, jadi tukang parkir bahkan pengemis pun ada resikonya, kalo anda tidak siap menanggung resiko, bunuh diri aja >:).

Hidup memang penuh dengan resiko, anda tidak bisa menolak atau menghindarinya. Jangan menganggap resiko itu sebagai dinding tebal dan panjang layaknya tembok china atau sebuah jurang dalam yang akan yang tidak bisa ditembus atau dilalui oleh anda. Banyak jalan menuju Mekkah Bung. Jangan jadikan resiko sebagai penghambat langkah anda, jadikanlah resiko sejalan dengan income yang anda dapatkan, seperti sebuah prinsip investasi, higth risk higth return.

Jadi, kapan anda mengajukan surat ijin mengemudi ?